Home Terbaru Protes Kekerasan terhadap Jurnalis, Wartawan di Kediri Aksi Lakban Mulut

Protes Kekerasan terhadap Jurnalis, Wartawan di Kediri Aksi Lakban Mulut

Berita, Populer, Terbaru March 29, 2021 9:47 pm
IDNpos.com – Tindak kekerasan terhadap Jurnalis Tempo, Nurhadi, yg tengah melakukan peliputan, terus memantik protes wartawan di sejumlah daerah, Hari Senin (29/3). Selain di Surabaya, pekerja pers serta melakukan aksi demonstrasi di Kediri, Jember, dan juga serta Bondowoso, untuk mendesak supaya kasus itu diusut tuntas dan juga serta pelaku diproses sesuai Undang-Undang Pers.
Di Kediri, aksi keprihatinan dilakukan wartawan berasal dari sejumlah organisasi pers. Mereka yg tergabung di dalam Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kediri mengawalinya dengan melakban mulut di depan Sekretariat AJI Kediri, Jalan Dr Soetomo, Kota Kediri. Aksi ini merupakan simbol pembungkaman. Massa serta membentangkan poster yg mengecam kekerasan terhadap wartawan.
Aksi kemudian dilanjutkan ke depan Taman Makam Pahlawan (TMP) Joyoboyo Kota Kediri. Di tempat ini, aksi turut dilakukan jurnalis berasal dari organisasi wartawan lainnya, seperti Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kediri, dan juga serta Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Kediri.
di dalam aksinya, para jurnalis mendesak Kapolri untuk mengusut dan juga serta menindak tegas siapa pun yg terlibat di dalam tindak kekerasan terhadap jurnalis Tempo, Nurhadi, di Surabaya. Penegakan hukum mesti dilakukan sesuai Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.
Sekretaris AJI Kediri Yanuar Dedy menyatakan, aksi ini merupakan bentuk keprihatinan terhadap kekerasan yg dialami Nurhadi yg sedang melakukan tugas jurnalistik pada Hari Sabtu (27/3) malam sampai Hari Minggu (28/3) dini hari. “Kami mengutuk keras kekerasan yg dialami dari Nurhadi, apalagi diduga terdapat keterlibatan aparat penegak hukum yg seharusnya melindungi warganya, maupun jurnalis yg dilindungi Undang-Undang saat melakukan tugasnya. Kapolri mesti tegas dan juga serta melakukan penyelidikan secara transparan dengan menggunakan UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers,” tegas Dedy.
Kekerasan terhadap jurnalis ini merupakan tindak pidana yg melanggar setidaknya dua aturan, yaitu Pasal 170 KUHP mengenai penggunaan kekerasan secara bersama-sama terhadap orang atau barang, dan juga serta Pasal 18 ayat (1) UU Pers tentang tindakan yg menghambat atau menghalangi kegiatan jurnalistik. Ancaman hukuman untuk pelanggaran ini ialah seberat-beratnya lima tahun enam bulan penjara.
Dedy mengkhawatirkan pembiaran hukum di dalam tindak pidana kekerasan terhadap jurnalis. Menurut dia, lunaknya penegakan hukum bagi pelaku kekerasan terhadap insan pers menjadi preseden buruk di dalam penegakan demokrasi, kebebasan pers, dan juga serta kebebasan berekspresi.
Seperti diberitakan, Nurhadi mengalami kekerasan saat melaksanakan peliputan, untuk konfirmasi ke bekas Direktur Pemeriksaan Ditjen Pajak Kemenkeu, Angin Prayitno Aji, terkait kasus dugaan suap yg ditangani Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Korban diduga mengalami penyekapan dan juga serta kekerasan tiba di Gedung Samudra Morokembang. Ia dipukul berulang kali dan juga serta diintimidasi dari ajudan Angin serta aparat kepolisian.
Menyikapi itu, AJI Kediri mendesak agar:
1. Kapolda Jawa Timur Irjen Nico Afinta untuk menindaklanjuti kasus kekerasan terhadap jurnalis Tempo dan juga serta memeriksa semua anggotanya yg terlibat. Setelah semua berkas penyidikan lengkap, Koalisi menuntut pelakunya dibawa ke meja hijau untuk menerima hukuman yg setimpal, sesuai peraturan perundang-undangan yg berlaku.
2. Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo untuk memerintahkan jajarannya di Divisi Profesi dan juga serta Pengamanan Mabes Polri untuk memproses pelaku secara disiplin profesi dan juga serta memastikan kasus ini merupakan aksi kekerasan terakhir yg dilakukan polisi terhadap jurnalis.
3. Lembaga Perlindungan Saksi dan juga serta Korban (LPSK), Komisi Nasional untuk Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) dan juga serta Dewan Pers, untuk meberikan perlindungan bagi korban berasal dari ancaman kekerasan lebih lanjut dan juga serta mengawal proses hukum atas kasus ini.
4. supaya semua pihak untuk menghormati kerja-kerja jurnalistik yg dilindungi dari UU Pers, demi terjaminnya hak publik untuk tahu dan juga serta mendapatkan info yg akurat mengenai isu-isu yg penting bagi orang sangat banyak.
Aksi protes serupa serta dilakukan di Jember dan juga serta Bondowoso. AJI Jember menggelar aksinya di bundaran depan DPRD Jember pada Hari Senin (29/03) sore.
“Nurhadi dianiaya sedang menjalankan prosedur jurnalistik berupa konfirmasi yg menjadi hak narasumber. Jurnalisme investigasi seperti yg dilakukan Nurhadi, selama ini berkontribusi penting di dalam mendorong penuntasan kasus-kasus korupsi yg biasanya berjalan cukup pelik,” tutur Andi Saputra, koordinator aksi berasal dari AJI Jember saat berorasi, Hari Senin (29/03).
AJI Jember menyoroti dugaan keterlibatan anggota Polri dan juga serta TNI sebagaimana pelaku penganiayaan, sebagaimana kronologi yg dilaporkan ke Polda Jatim. “Aparat dibayar rakyat untuk menjaga rakyat, bukan menganiaya jurnalis. Polri mesti berani mengusut tuntas kasus ini. begitu pula dengan indikasi keterlibatan anggota TNI, maka Polisi Militer mesti proaktif mengusut kasus ini,” papar Andi Saputra.
Mereka serta menyinggung kasus kekerasan terhadap jurnalis di Situbondo pada awal Maret 2021. Kekerasan itu dilakukan ajudan Menteri Kelautan dan juga serta Perikanan terhadap jurnalis JTV, Andi Nurholis. “Terjadi tren peningkatan kasus kekerasan terhadap jurnalis sepanjang pemerintahan Presiden Jokowi,” tutur Andi.
Peningkatan kasus kekerasan terhadap jurnalis menurut AJI Jember disebabkan salah satunya karena tidak tuntasnya penyelesaian hukum atas setiap kasus. “Akan menjadi berbahaya jika terjadi impunitas dan juga serta anggapan bahwa kekerasan ialah jalan efektif untuk memberangus pers yg kritis,” papar Andi.
Desakan serupa serta disuarakan sejumlah jurnalis di Bondowoso, kota yg berbatasan dengan Jember. Para pewarta Bondowoso yg tergabung di dalam Aliansi Pewarta Bondowoso Bersatu (APBB) ini menggelar tabur bunga bunga, sebagaimana bentuk kecaman dan juga serta kritik terhadap kasus kekerasan yg dialami Nurhadi.
“Kami mengutuk tindak kekerasan yg dilakukan aparat terhadap jurnalis,” tutur Riski Setiawan, koordinator aksi saat berorasi di depan Monumen Gerbong Maut yg merupakan landmark kota Bondowoso.
Karena itu, para pewarta Bondowoso ini serta mendesak Kapolda Jatim Irjen Pol Nico Afinta menuntaskan pengusutan kasus kekerasan terhadap Nurhadi. “Polisi mesti berani menyeret pelaku beserta aktor intelektualnya. Karena kebebasan pers telah dijamin di dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999,” tutur kontributor stasiun televisi nasional ini. [yan]

Sumber Referensi & Artikel : M E R D E K A
Saksikan video pilihan berikut ini:

Baca Juga :  BPS catat pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun 2020 minus 2,07%
#Share
#Facebook #Twitter #Youtube #Video