Home Terbaru Perhimpunan Guru Ungkap sangat banyak Pelanggaran Prokes Selama Belajar Tatap Muka

Perhimpunan Guru Ungkap sangat banyak Pelanggaran Prokes Selama Belajar Tatap Muka

Berita, Populer, Terbaru April 8, 2021 12:48 am
IDNpos.com – Perhimpunan Pendidikan dan juga serta Guru (P2G) memberikan evaluasi terhadap 16 provinsi yg telah mulai melakukan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas. Kabid Advokasi P2G, Iman Zanatul Haeri menuturkan sangat banyak terjadi pelanggaran prokes di dalam proses pembelajaran tatap muka secara terbatas.
Pelanggaran tersebut ditemui seperti di Kabupaten Kepulauan Simeulue, Kabupaten Bogor, Kota Bekasi, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Kabupaten Melawi, Kota Batam, Kota Bukittinggi, Kabupaten Tanah Datar, Kota Padang Panjang, Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Bojonegoro, dan juga serta Kabupaten Situbondo.
“Contoh kasus yg sangat banyak terjadi, guru dan juga serta siswa tidak memakai masker. Adapun memakai masker, tetapi tidak sesuai protokol kesehatan, karena cuma dipakai di dagu saja,” urainya di dalam keterangan tulis, Hari Rabu (7/4).
Kerap ditemui pula pelanggaran terhadap 3M lainnya, yaitu tidak menjaga jarak. Kata Iman, menurut gurunya hal itu karena faktor murid merayakan kangen-kangenan pasca lama tak bersua.
Pelanggaran terjadi serta di luar sekolah. saat pulang sekolah, siswa dan juga serta guru melanggar 3M seperti berkerumun, nongkrong tidak mematuhi prokes, tidak menjaga jarak, dan juga serta tidak mengenakan masker.
Begitu pula saat siswa dan juga serta guru berangkat dan juga serta pulang sekolah, yaitu saat menggunakan angkutan umum, seperti ditemui di Kabupaten Bogor dan juga serta Kota Bekasi.
“Tidak adanya kepatuhan terhadap prokes, di di dalam kendaraan umum tidak terdapat pengaturan jaga jarak. Tentu ini berbahaya bagi kesehatan guru dan juga serta siswa,” papar Iman.
Iman menjelaskan, terdapat sejumlah daerah yg mulai PTM sejak Januari, Februari, dan juga serta April 2021. Daerah-daerah tersebut antara yg lain Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Kepulauan Riau, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Nusa Tenggara Timur (NTT), Papua, dan juga serta Papua Barat.
Mendikbud Genjot PTM
Sebelumnya Menteri Pendidikan dan juga serta Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim memutuskan untuk mewajibkan pembelajaran secara tatap muka (PTM) kepada sekolah Setelah para pendidik dan juga serta tenaga kependidikannya telah menjalani vaksinasi secara lengkap.
“Karena kami sedang mengakselerasi vaksinasi, setelah pendidik dan juga serta tenaga pendidikan di di dalam suatu sekolah telah divaksinasi secara lengkap, pemerintah pusat, pemerintah daerah atau kantor Kemenag mewajibkan satuan pendidikan tersebut untuk menyediakan layanan pembelajaran tatap muka terbatas dengan menerapkan protokol kesehatan,” tegas Nadiem di dalam acara Pengumuman Surat Keputusan dengan sejumlah menteri tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran di Masa Pandemi Coronavirus Disease 2019 (Corona), Hari Selasa (30/6/2021).
Nadiem menyebut, sekolah serta wajib memberikan pilihan pembelajaran secara jarak jauh. Hal ini lantara, kendati sekolah telah menjalankan pembelajaran secara tatap muka, namun secara prosedur protokol kesehatan, kapasitas yg diizinkan cuma 50 persen saja.
“menjadi mau tidak mau bagaimanapun telah selesai vaksinasi dan juga serta diwajibkan untuk memberikan tatap muka terbatas, tapi mesti melalui sistem rotasi. Sehingga harusnya menyediakan dua-dua opsinya, tatap muka dan juga serta serta pembelajaran jarak jauh,” tekannya.
Kendati sekolah diwajibkan menggelar pembelajaran secara tatap muka, namun kata Nadiem keputusan untuk kembali menyekolahkan anaknya secara langsung terdapat di tangan para orang tua. Orang tua masih memiliki pilihan apakah mau mendorong anaknya untuk belajar di sekolah atau tetap memilih belajar di rumah.
“yg terpenting ialah orang tua atau wali murid boleh memilih, berhak dan juga serta bebas memilih bagi anaknya apakah mau melakukan pembelajaran tatap muka terbatas atau tatap melaksanakan pembelajaran jarak jauh,” ucapnya.
Kekhawatiran Nadiem Makarim
Mantan Bos Gojek Indonesia itu mengungkapkan kekhawatirannya jika sekolah tak kunjung menggelar pembelajaran secara tatap muka. Menurutnya sangat banyak sekali dampak negatif yg ditimbulkan sebab pembelajaran jarak jauh.
“kami melihat trand-trand yg sangat mengkhawatirkan, trand anak-anak yg putus sekolah. kami melihat penurunan capaian pembelajaran, apalagi di daerah-daerah di mana akses dan juga serta kualitas itu tidak tercapai. Jadinya kesenjangan ekonomi menjadi lebih besar ya,” terang Nadiem.
Pembelajaran jarak jauh, lanjut Nadiem serta terpotret sebabkan orang tua menarik anaknya keluar berasal dari sekolah. Hal ini lantaran mereka tak melihat peranan sekolah selama menggelar pembelajaran secara jarak jauh.
“dan juga terdapat berbagai macam isu-isu kekerasan domestik yg terjadi di dalam keluarga yg tidak terdeteksi. menjadi risiko berasal dari sisi bukan cuma pembelajaran, tapi risiko berasal dari masa depan murid itu dan juga serta risiko psikososial atau kesehatan mental dan juga serta emosional anak-anak itu, ini semuanya sangat rentan,” ujarnya.
“menjadi kami mesti mengambil tindakan tegas untuk menghindari supaya ini tidak menjadi dampak yg permanen dan juga serta satu generasi menjadi terbelakang,” sambungnya.

Baca Juga :  Bareskrim Usut Heboh Ajakan Nikah Muda Aisha Weddings di Medsos

Reporter: Yopi Makdori
Sumber : Liputan6.com [rhm]

Sumber Referensi & Artikel : M E R D E K A
Saksikan video pilihan berikut ini:

#Share
#Facebook #Twitter #Youtube #Video