Home Terbaru Mengapa saat Berkendara kami Makin Mudah Memaki?

Mengapa saat Berkendara kami Makin Mudah Memaki?

Berita, Populer, Terbaru March 31, 2021 6:47 am
IDNpos.com – Seringkali saat kami berada di jalan raya, dan juga serta seseorang memotong jalan kami dengan tiba-tiba atau melanggar peraturan, kami akan secara tak sadar marah. Tak cuma marah, seringkali kami serta memaki orang tersebut secara tak terkendali.
Yap, kami seakan-akan ‘menjadi orang yg lain’ saat berkendara. kami seketika marah jika terdapat orang berperilaku sembarangan saat berkendara, meski jika sedang tak berkendara kami ialah orang yg bagus dan juga serta ramah. Mengapa hal ini terjadi?
Ada beberapa penjelasan. berasal dari sisi psikologis, hal ini disebut ‘deindividuation,’ di mana kesadaran diri kami akan seketika hilang jika berhadapan dengan orang yg tak kami kenal. terdapat studi yg meneliti tentang ini.

‘Tidak Sadarkan Diri’
Studi yg dilakukan psikolog bernama Philip Zimbardo di tahun 1970, di mana seseorang bertudung diwajibkan mengagetkan mahasiswa di kegelapan. Lalu sang psikolog serta menyuruh mahasiswa biasa yg menggunakan tag nama di pakaiannya untuk mengagetkan mahasiswa yg lain. Setelah dibandingkan, peserta bertudung lebih mengagetkan.
Memang tidak kenal belum tentu memicu tindakan impulsif seperti marah besar dan juga serta memaki-maki. Namun menurut psikolog dengan Jamie Madigan, hal ini membuat perilaku kami lebih agresif dan juga serta kurang terkontrol. Hal ini terbukti di berbagai hal yg melibatkan orang yg ‘tak dikenal’: sosial media. Di Facebook, kami dengan mudah memaki-maki seseorang di kolom komentar karena hal tersebut.
Konteks ini pun sama dengan saat kami berkendara. saat naik mobil, saat orang yg lain berlalu-lintas dengan tak baik, kami dapat menjadi orang yg dengan enteng memaki-makinya karena Ia pasti tak kenal kami. kami menjadi ‘anonim’ yg berlindung di balik kaca mobil.
Sisi psikologis ini secara tidak langsung memperlihatkan bahwa seseorang berbuat demikian karena resiko yg akan Ia tanggung sangat kecil. Seseorang akan lebih ‘lega’ melampiaskan amarahnya, toh yg menjadi pelampiasan marahnya tak kenal siapa kami.

Baca Juga :  Jokowi: Ada PPKM Ekonomi Turun Enggak Apa-apa, Asal Covid-19 Juga Menurun

Aspek Komunikasi
Aspek yg lain ialah aspek komunikasi. Secara tak kami sadari, ternyata pola komunikasi di jalan raya sangat berbeda dengan komunikasi kami saat keadaan biasa.
Di jalan raya, pengendara akan menjadi ‘bisu’, di dalam artian semua bentuk komunikasi diwakilkan di dalam bentuk komunikasi non-tradisional, seperti klakson, gestur tangan, serta lampu dim. Identitas Anda sebagaimana seseorang akan hilang, dan juga serta akan diwakilkan ke apa jenis dan juga serta merek kendaraan Anda.
Semua faktor tersebut jika digabungkan akan menjadikan perilaku agresif. Bagaimana tidak, kami yg secara tak sadar berpikir bahwa tak terdapat komunikasi ‘verbal’ saat berkedara, tiba-tiba dipaksa mesti berkomunikasi di luar komunikasi kendaraan seperti klakson dan juga serta lampu. Situasi ini akan membuat kami langsung mengeluarkannya secara verbal berbentuk umpatan.
Selain itu, identitas berupa merek kendaraan serta menentukan superioritas dan juga serta inferioritas. Makin superior, berarti makin berkelas kendaraannya, makin mudah untuk berperilaku agresif.
Kesimpulan dapat ditarik jika kami kembali ditelaah berasal dari sisi psikologis, berbagai studi telah menjelaskan bahwa orang biasa dan juga serta pengendara, memiliki daerah aktivasi saraf yg berbeda daerah.
menjadi dengan mudah dapat kami simpulkan bahwa memang seseorang yg berkendara menjadi orang yg berbeda, orang yg lebih agresif. [idc]

Sumber Referensi & Artikel : M E R D E K A
Saksikan video pilihan berikut ini:

Baca Juga :  Likuditas Melimpah, Transaksi Antar Bank Turun di Semester II-2020
#Share
#Facebook #Twitter #Youtube #Video