Home Terbaru Mendikbud Nadiem: Baru 22 Persen Sekolah Gelar Pembelajaran Tatap Muka

Mendikbud Nadiem: Baru 22 Persen Sekolah Gelar Pembelajaran Tatap Muka

Berita, Populer, Terbaru March 30, 2021 6:50 pm
IDNpos.com – Menteri Pendidikan dan juga serta Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim mengungkap baru sebagian kecil sekolah yg menggelar pembelajaran secara tatap muka. Ia mengungkap bahwa cuma sekitar 22 persen saja sekolah yg menggelar tatap muka kendati pihaknya telah mengizinkan pembukaan sekolah di semua zona pada Januari 2021.
“Tapi kenyataan di lapangan ialah cuma sekitar 22 persen daripada sekolah kami yg melakukan pembelajaran tatap muka. Bahkan di zona hijau dan juga serta kuning pun, yg paling besar itu zona hijau sebesar 41 persen,” kata Nadiem di dalam acara Pengumuman Surat Keputusan dengan sejumlah menteri tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran di Masa Pandemi Coronavirus Disease 2019 (Corona), Hari Selasa (30/3).
Padahal kata Nadiem sangat banyak dampak negatif jika sekolah masih kukuh melaksanakan pembelajaran secara jarak jauh.
“dan juga berbagai macam pihak, pakar-pakar dunia, seperti Bank Dunia, WHO dan juga serta UNICEF semuanya sepakat bahwa penutupan sekolah ini dapat menghilangkan pendapatan hidup di satu generasi, loss of learning ini real dan juga serta memang risiko yg dampaknya permanen,” tegas Nadiem.
Menteri kelahiran Singapura, 4 Juli 1984 itu menyatakan bahwa hal itu buka cuma menyebabkan dampak negatif pada pembelajaran, melainkan pula pada kesehatan, mental, dan juga serta perkembangan anak-anak.
“dan juga jangan lupa untuk orang tuanya serta yg sangat sukar mendapatkan kesempatan ekonomi bekerja di luar karena mereka serta mesti mengurus anaknya di rumah. menjadi sangat banyak sekali dampak negatif yg ada,” urai dia.
Selama pandemi, lanjut Nadiem dirinya serta melihat tren penurunan di dalam dunia pendidikan. Terlebih pendidikan di daerah yg akses dan juga serta kualitas pendidikannya masih jauh berasal dari kata ideal.
“Jadinya kesenjangan ekonomi dapat menjadi lebih besar. kami melihat serta sangat banyak anak orang tua yg tidak melihat peranan sekolah di dalam proses belajar. menjadi sangat banyak berasal dari anak-anaknya ditarik keluar berasal dari sekolah,” terang Nadiem.
Belum lagi menyangkut isu kekerasan domestik terhadap anak selama melakukan pembelajaran jarak jauh di tengah pandemi Corona yg menurut Nadiem kurang teradar.
“menjadi risiko berasal dari sisi bukan cuma pembelajaran, risiko berasal dari masa depan murid itu, dan juga serta risiko psikososial atau kesehatan mental dan juga serta emosional daripada anak-anak. Ini semuanya sangat rentan,” katanya.
Nadiem memandang perkembangan pembukaan sekolah secara tatap muka di lapangan begitu lamban. Akhirnya hal itu yg mendorong pihaknya untuk mengambil langkah tegas supaya mewajibkan pembukaan sekolah tatap muka Setelah guru dan juga serta tenaga pendidikannya menyelesaikan vaksinasi selama dua tahap.
“Karena kami sedang mengakselerasi vaksinasi, setelah pendidik dan juga serta tenaga pendidikan di di dalam suatu sekolah telah divaksinasi secara lengkap, pemerintah pusat, pemerintah daerah atau kantor Kemenag mewajibkan satuan pendidikan tersebut untuk menyediakan layanan pembelajaran tatap muka terbatas dengan menerapkan protokol kesehatan,” tegas Nadiem.
Nadiem menyebut, sekolah serta wajib memberikan pilihan pembelajaran secara jarak jauh. Hal ini lantara, kendati sekolah telah menjalankan pembelajaran secara tatap muka, namun secara prosedur protokol kesehatan, kapasitas yg diizinkan cuma 50 persen saja.
“menjadi mau tidak mau bagaimanapun telah selesai vaksinasi dan juga serta diwajibkan untuk memberikan tatap muka terbatas, tapi mesti melalui sistem rotasi. Sehingga harusnya menyediakan dua-dua opsinya, tatap muka dan juga serta serta pembelajaran jarak jauh,” tekannya.
Kendati sekolah diwajibkan menggelar pembelajaran secara tatap muka, namun kata Nadiem keputusan untuk kembali menyekolahkan anaknya secara langsung terdapat di tangan para orang tua. Orang tua masih memiliki pilihan apakah mau mendorong anaknya untuk belajar di sekolah atau tetap memilih belajar di rumah.
“yg terpenting ialah orang tua atau wali murid boleh memilih, berhak dan juga serta bebas memilih bagi anaknya apakah mau melakukan pembelajaran tatap muka terbatas atau tatap melaksanakan pembelajaran jarak jauh,” ucapnya.
Reporter: Yopi MakdoriSumber : Liputan6.com [rhm]

Sumber Referensi & Artikel : M E R D E K A
Saksikan video pilihan berikut ini:

Baca Juga :  Buron 29 Tahun, Terpidana Kasus Penipuan dan Penggelapan Ditangkap Kejati Sumut
#Share
#Facebook #Twitter #Youtube #Video