Home Terbaru Masa-masa Sulit Pangeran Diponegoro di Manado

Masa-masa Sulit Pangeran Diponegoro di Manado

Berita Populer Terkini April 9, 2021 6:48 am

JAKARTA – Pada 12 Juni 1830, Kapal Pollux akhirnya membuang jangkar di Manado. Keesokan harinya Pangeran Diponegoro dan juga serta para pengikutnya diturunkan berasal dari kapal. Mereka dikawal menuju Fort New Amsterdam, Benteng Belanda di kemudian hari rusak Karena gempa (14 Mei 1932) dan juga serta pengeboman Amerika Serikat (7 Desember 1944). Benteng ini akan menjadi rumah mereka selama tiga tahun.

“Menurut Babad Diponegoro, Van den Bosch telah menjanjikan Ia ‘tempat yg terpencil dan juga serta tenang’ di sebuah rumah besar dengan panorama pemandangan yg luas menghadap ke pegunungan dan juga serta laut dengan taman-tamannya yg asri, rumah-rumah peristirahatan dan juga serta tempat-tempat yg lain yg dapat dinikmati tanpa gangguan,” ungkap Sejarawan Peter Carey, yg serta penulis buku Diponegoro, ‘Takdir’ dan juga serta ‘Kuasa Ramalan’ dikutip Okezone, Hari Jumat (8/4/2021).

Pada tahun 1859, empat tahun sejak wafatnya Diponegoro, Alfred Russel Wallace (1823-1913), seorang ahli ilmu alam Inggris, menggambarkan Ibu Kota Minahasa itu sebagaimana salah satu kota tercantik di Timur dengan barisan puncak-puncak gunung berapinya yg menakjubkan, yg membentuk latar belakang luas dan juga serta pemandangannya yg indah (Wallace 1890:185).

Baca Juga :  Polres Klaten Tangkap 4 Kawanan Pembobol ATM Lintas Provinsi

Baca serta: Kisah Pangeran Diponegoro Tulis Babad di dalam Ruang Panas di Benteng Rotterdam

Sekalipun gambaran di atas boleh menjadi sesuai dengan janji Gubernur Jenderal (Knoerle, ‘Journal’, 50), segera menjadi jelas bahwa maksud Van den Bosch untuk mengurung pemimpin Perang Jawa ini di tempat yg aman dan juga serta jauh di pedalaman praktis tidak dapat dilaksanakan.

Baca serta: Kisah Pangeran Diponegoro Mabuk Laut & Deman saat Berlayar

saat Knoerle, seorang perwira Hindia Belanda menemui Residen Manado, D.F.W. Pietermaat (menjabat, 1827-31), mereka sampai pada keputusan bahwa Pangeran Diponegoro akan di tempatkan sementara di ruangan dengan empat kamar di di dalam benteng Fort Nieuw Amsterdam.

“Untuk itu ruangan direnovasi supaya cukup ‘elegan’, lengkap dengan rak buku, meja tulis berikut lacinya, dengan lampu minyak besar keluaran terakhir. Diponegoro memang ingin menuliskan sesuatu selama ia tinggal di Manado. Dua kuda serta dibeli untuk Pangeran, sehingga ia dapat berkeliling di daerah itu,” ungkap Carey.

Baca Juga :  Coba Kabur Saat Izin Kencing, Spesialis Pencurian Indekos Ditembak Polisi

Saat Knoerle berangkat pada tanggal 20 Juni, keputusan yg diambil ialah bahwa Pangeran tetap tinggal di Manado.

Pada hari-hari sebelumnya (14-17 Juni 1830) Knoerle telah melakukan survei ke pedalaman dan juga serta mencatat bahwa satu-satunya tempat yg cocok untuk Diponegoro ialah Tondano.

Tetapi terdapat masalah cuma sebulan sebelumnya, Kiai Mojo beserta 62 pengawalnya telah lebih dahulu tinggal di sana. bagus Knoerle maupun Pietermaat sepakat bahwa pemimpin Perang Jawa dan juga serta penasihat agamanya yg utama ini tidak boleh berada di satu tempat pengasingan yg sama, suatu keputusan yg kebetulan dipermudah dari pilihan Pangeran sendiri untuk tetap tinggal di Ibu Kota Minahasa mengingat dinginnya suhu udara di dataran tinggi Tondano.

Baca Juga :  Tegang dengan Rusia, Ukraina Ancam Kembangkan Senjata Nuklir

di dalam babad, Diponegoro menyebut-nyebut tentang percakapan terakhir antara dirinya, Knoerle, dan juga serta kapten kapal Pollux sebelum mereka berangkat pulang ke Batavia. Setelah memberitahukan tunjangan bulanan sebesar 600 gulden, Kapten Eeg menanyakan apakah Pangeran hendak menitipkan pesan pribadi kepada Gubernur Jenderal, mungkin di dalam bentuk sepucuk surat?

“Tidak!” jawab Diponegoro. “Saya tidak memiliki keinginan menitipkan surat karena saya tidak dapat menulis, cukup sampaikan salam saja kepada Jenderal Van den Bosch!” (Babad Dipanegara IV:201).

“Jawaban Diponegoro ini meragukan: Pangeran sebetulnya mampu menulis di dalam bahasa Jawa meski secara gramatikal masih kacau. Pangeran bahkan dapat menulis surat-surat pribadi dan juga serta mendiktekan karya besarnya seperti babad riwayat hidupnya sepanjang 43-canto,” ujarnya.

“Berpura-pura buta huruf merupakan isyarat Pangeran untuk menyatakan bahwa ia tidak dapat melupakan ketidaksediaan Van den Bosch untuk menemuinya sewaktu masih berada di tahanan Batavia”, tambahnya.

Sumber Referensi & Artikel : O K E Z O N E
Saksikan video pilihan berikut ini: