Home Terbaru Kisah Mendebarkan Jurnalis Perang Berkelana Keliling Dunia 12.000 Km dengan Berjalan Kaki

Kisah Mendebarkan Jurnalis Perang Berkelana Keliling Dunia 12.000 Km dengan Berjalan Kaki

Berita Populer Terkini April 8, 2021 6:48 am

JURNALIS perang pemenang dua kali penghargaan bergengsi Pulitzer Award dan juga serta National Geographic Fellow, Paul Salopek, tengah mendokumentasikan dunia di dalam misi jurnalisme yg telah ia lakukan selama bertahun-tahun terakhir, Out of Eden Walk.

Sejak Januari 2013, jurnalis berkebangsaan Amerika berusia 59 tahun ini telah berjalan kaki berasal dari Afrika, menelusuri jejak kuno migrasi manusia, yg terjadi antara 50.000 sampai 80.000 tahun lalu.

di dalam misinya, ia melakukan pengembaraan sepanjang 38.000 Km, menjelajahi 36 negara yg membentang berasal dari Ethiopia ke Argentina, melintasi Asia barat, Jalur Sutra, India, China, Siberia dan juga serta pesisir barat Amerika Utara dan juga serta Selatan sebelum akhirnya perjalanannya berakhir di Tierra del Fuego di ujung Amerika Serikat.

Sejauh ini, ia telah menempuh jarak 12.000 Km dan juga serta saat ini terjebak di Myanmar karena penutupan perbatasan yg ketat Karena pandemi.

Sebagai seorang ilmuwan otodidak, Salopek mengatakan bahwa proyeknya ialah tentang mendongeng, sebuah eksperiman di dalam jurnalisme lambat (slow journalism) dan juga serta memberikan kesan yg di dalam. 

Baca Juga :  Luhut: Indonesia berpotensi jadi produsen baterai lithium terbesar kedua dunia

Melalui Out of Eden Walk, ia bermaksud mengumpulkan pengetahuan dengan metode yg lebih lambat, dengan kecepatan yg lebih manusiawi, menyisipkan karyanya dengan wawasan yg lebih kaya dan juga serta lebih di dalam ke di dalam lanskap dan juga serta kehidupan orang-orang yg ia temui.

Kami baru-baru ini bertemu dengan Salopek dan juga serta menanyakan kepadanya bagaimana Corona telah memengaruhi pengembaraannya, apa yg menginspirasinya untuk terus melakukan perjalanan dan juga serta apa yg ia inginkan ia wariskan berasal dari petualangannya tersebut. 

T: kami mewawancarai Anda enam tahun lalu, dua tahun setelah perjalanan Anda dimulai, saat itu Anda berada di Turki timur. Apakah perjalanan Anda terasa lebih penting dan juga serta mendesak, mengingat beberapa tantangan baru-baru ini yg dihadapi planet ini?

Seperti semua orang, saya serta terdampak dari pandemi. Perbatasan ditutup. Gerakan dibatasi. Saya telah menghentikan sementara perjalanan saya di utara Myanmar, menunggu semuanya dibuka kembali. Untungnya, di antara hal-hal yg diajarkan di dalam perjalanan ialah kesabaran.

Paul Salopek

di dalam cakrawala saya, tak sangat banyak yg berubah. Para petani menanam padi. Truk-truk berbondong-bondong di sepanjang jalan di tengah hutan membawa kiriman bir berikutnya, serta membawa ikan atau kayu.

Baca Juga :  Berawal Mesin Pompa Hilang, Warga Banyuasin Temukan Pondok Tempat Pesta Narkoba

Saya beruntung. Myanmar memiliki angka morbiditas dan juga serta kematian yg sangat rendah. Alasannya tidak sepenuhnya diketahui dan juga serta dapat menjadi rumit. Itu mungkin termasuk level kekebalan mereka karena manusia dan juga serta virus corona telah hidup berdampingan di lingkungan tropis ini selama ribuan tahun. Karenanya, seorang teman ahli genetika menyebutnya “sabuk trenggiling”. 

Saya tak yakin CVD membuat pesan pengembaraan saya lebih mendesak. Itu mungkin membuatnya lebih relevan. Pandemi menyoroti saling ketergantungan kami. kami tak akan sembuh sampai semua orang sembuh. Keselamatan kami bersifat komunal.

T: Bepergian dan juga serta mendongeng ialah hal yg wajar bagi Anda sebagaimana koresponden asing. Itukah yg menginspirasi Anda untuk melakukan pengembaraan ini, dan juga serta dapatkah Anda memberi tahu kami apa yg menginspirasi Anda untuk terus berkembara?

Proyek ini tentang mendongeng. Berjalan ialah hanyalah kendaraan antik untuk misi itu.

Baca Juga :  Gus Dur Bikin Bill Clinton Ngakak, Pertemuan 30 Menit Jadi 1,5 Jam

Penyair Yunani kuno. pendongeng Afrika Barat. pada murid Konfusius yg berkembara di China. Kebiasaan manusia menggabungkan pengembaraan dengan narasi, budaya belajar dan juga serta berbagi telah sangat tua. Ini ialah tradisi yg ditemukan di sangat banyak bagian dunia.

Saya ialah seorang koresponden asing konvensional, berpindah-pindah antara kabar terbaru dengan pesawat atau mobil. Munculnya Revolusi info cuma mempercepat proses itu. Kisah kami hari ini bergerak dengan kecepatan cahaya. menjadi, Out of Eden Walk ialah sedikit penolakan terhadap semua itu. 

Ini bertujuan untuk mengumpulkan pengetahuan dengan metode yg lebih lambat, dengan kecepatan yg lebih manusiawi, dengan kecepatan yg dirancang untuk diproses dari otak Zaman Batu yg masih kami bawa kemana-mana – dengan kecepatan 5 km/jam.

Dengan memperlambat proses peliputan saya, pekerjaan saya diharapkan dapat dipenuhi dengan wawasan yg lebih kaya dan juga serta lebih di dalam tentang lanskap dan juga serta kehidupan orang-orang yg saya temui. Menghubungkan satu kisah ke kisah yg lain secara primal.

Sumber Referensi & Artikel : O K E Z O N E
Saksikan video pilihan berikut ini: